|


|
 |
» Catatan Kritis PADI: Popularitas Yang Mulai Meredup? [1] |
KEPERCAYAAN DIRI! Apakah band sekelas PADI juga masih bermasalah dengan kepercayaan diri? Apakah band setenar [dan sebesar] PADI, masih butuh recovery ketika siklus dua tahunan untuk merilis album terasa terjejal dengan deretan band-band baru yang kemudian melejit dan menawarkan sesuatu yang lebih fresh? Apakah PADI juga perlu gelisah ketika album-album terakhirnya memberi ciri musikalitas yang makin apik, tapi kemudian tergelincir pada sisi penjualan? Jawabnya: YA!
Band asal Surabaya yang awet terisi Piyu [vokal], Rindra [bass], Fadly [vokal], Ari [gitar] dan Yoyo [drum] ini punya kekuatan yang tampaknay sekarang justru merepotkan. Sebenarnya tak Cuma dialami PADI, tapi juga dirasakan oleh band-band lain yang makin lama makin berkembang sisi musikalitasnya. Agak aneh, makin berkualitas, tapi justru makin tidak laku. PADI sih berada pada deretan band yang keukeuh bermain dengan teknik apik, musikalitas njlimet. Resiko ‘untung-tipis’ tak membuat mereka –paling tidak sampai saat ini—kemudian ‘melacurkan’ diri membuat musik yang renyah, kacangan dan dikerubutin semut.
Lalu dimana PADI sekarang berdiri? Beberapa pengamat musik di Jakarta yang dikontak TEMBANG.com menyebut PADI kini justru makin menemukan kematangan dalam berkarya. Sisi musikalitasnya tergarap lebih rapi, temanya makin beragam dan karakter personilnya juga lebih dewasa dan terasah. Pengamat lain menyebut, PADI menemukan ciri musikal yang lebih pas di beberapa album terakhirnya. Meski itu tidak selalu berbanding lurus dengan sukses penjualan album. Satu alasan yang selalu “ditampik” dengan kadar emosi tinggi ketika ditanyakan kepada personilnya. Padahal, siapa sih yang merilis album hanya demi kepuasan sendiri? Apakah itu tidak malah disebut onani? Mana ada label yang berinvestasi besar untuk satu band dan kemudian tidak mengharapkan untung, minimal balik modal?
Masuk album ‘Save My Soul’ [album ketiga, 2003] PADI mulai bereksperimen dengan sound, lirik dan skill yang bisa dibilang setingkat lebih tinggi dibanding album sebelumnya. Sound lebih tebal, lirik lebih gothic dan mengumbar skill yang secara progress memang memberikan pujian. Sayang, album ini meski tidak jelek, tapi menurun drastis dibanding album sebelumnya. Apalagi romantisme cinta yang ditenteng di lagu-lagu sebelumnya, nyaris hilang berganti dengan depresi, kematian dan kesedihan yang kuat.
Blunder? Bukan istilah yang disukai oleh personil PADI. Blunder juga bukan istilah yang disukai oleh labelnya [SonyBMG]. Selalu ada perencanaan dan persiapan matang sebelum album dan temanya ditentukan. Promosi yang strtegis juga sudah disiapkan. Ketika kemudian masuk ke pasar, kekagetan penggemarnya biasanya langsung terasa di awal-awal edar. Yang masih mengharapkan romantisme cinta, bakal kecewa berat dengan kematian dan depresi tadi. Buntutnya, penjualan album PADi menukik ke lembah yang tidak terduga.
PADI bergerak cepat. Album ‘PADI’ [2005] dilansir dengan harapan penggemarnya bakal menoleh kembali. Album ini digarap lebh renyah dan ringan dibanding ‘Save My Soul’. Malah, smpat menyelipkan lagu sebagai soundtrack film. Tapi nampak jelas kegugupan PADI, lantaran album ini bisa dibilang kompromi habis. Sayangnya, kompromi PADI ini tampaknya diterima ‘setangah-hati’ oleh fansnya. Hasilnya, lagi-lagi kurang menggembirakan. Album ini ‘jeblok’ untuk band sekelas PADI.
Bagaimana dengan album ‘TAK HANYA DIAM’ [2007]? Suka atau tidak suka, inilah album paling emosional. Agak susah untuk tidak mengatakan tidak, karena dari sisi musikalitas, cara bernyanyi dan pilihan aransemen serta lirik, benar-benar seperti sedang "meledakkan" kemarahan yang selama ini terpendam. Lalu apakah, kemarahan itu kemudian menjadi energi positif untuk PADI di album barunya 'TAK HANYA DIAM?'
PADI seperti tak peduli dengan trend, dengan tudingan tidak bakal laku dan anggapan PADI sudah loyo, disalip band-band baru. "Kami tidak pernah berpikir apakah album ini diterima aau tidak, tapi kami ingin mengatakan sesuatu lewat album ini" elak Piyu dalam suatu kesempatan kepada wartawan. Arogan? Sombong? Atau sebenarnya justru kehilangan keyakinan diri?
Album ini [dan lirik-liriknya] --konon-- sangat dipengaruhi oleh The Beatles. Satu band yang kebetulan sangat digilai Piyu. Yang bikin kita geleng-geleng kepala, Piyu menginterpretasikan The Beatles tak mentah-mentah, tapi kemudian dikombinasi dengan beberap pengaruh band lain seperti U2 atau Jane's Addiction-nya Dave Navarro.
Simak track yang 'berteriak' soal Lapindo di lagu 'Terluka'. Terang-terangan dari liriknya, Piyu menyentil bencana alam yang diakibatkan 'ketololan' manusia itu. Jangan bayangkan lirik sumpah serapah, karena kemarahan itu diterjemahkan oleh Fadly dengan gaya menyanyi yang 'emosi, mengerang, terdengar meradang.'Inilah episode Piyu yang 'terisolasi' dengan kegembiraan dan keceriaan. Intro gitarnya, sepintas mengingatkan kita pada kocokan Dave Navarro. "Memang inspirasinya dari dia," aku Piyu.
Sementara single pertama 'Sang Penghibur' menjadi lagu yang sebenarnya sangat tipikal Piyu yang "tergila-gila' dengan U2. Yang menarik di lagu ini, duet gitar Piyu dan Ari sudah terlihat 'berbagai peran' dengan pas. Piyu tak dominan, sementara Ari juga tak selalu berada di belakang. Lagu bertempo up-beat ini menjadi salah satu track terapik di album ini. Yoyo memberikan gebukan yang sedikit 'diselewengkan' dari warna U2. Biar nggak kelihatan mirip banget kali ya...
Kangen dengan PADI yang rada melankolik? Jangan berharapa banyak, tapi meski dengan tataran keras, coba simak track berjudul 'Belum Terlambat'. Kalau kelak lagu ini bakal menjadi anthem, rasanya tak mengejutkan. Lagunya sendiri agak mellow, tapi dibawakan dengan hentakan yang kuat dan distorsi yang keras. Hanya interlude fretless-nya Rindra tetap mempertahankan lagu ini sebagai lagu yang masuk kategori “sendu”.
Mau dengar Piyu 'berceloteh' seperti menyanyi? Perhatikan track berjudul 'Harmony'. Entah kenapa, Piyu harus menyanyi? Meski tak bisa disebut jelak, tapi lagu ini malah kurang kuat. Lantaran Piyu vokalisnya? Kayaknya iya. Nggak banget.
Apa komentar untuk album ini? Dramatis, gelap, gothic dan emosional. Kenapa? Piyu mengaku sedang depresi dengan situasi diluar sana. Imbasnya, lirik dan aransemen yang lebih liar tapi terasa depresif dan satir. PADI sedang 'berduka' lewat album ini. Album ini bagus, tapi tidak mudah dicerna. Album ini lantang, tapi ribet. Kalau kangen dengan PADi yang bisa dikunyah, dikulum dan dinikmati dengan santai, album ini bukan pilihan tepat. Repotnya, album ini lebih 'kelam' dibanding 'Save My Soul' yang --konon-- paling menyayat. Hati-hati, PADI berada di titik kulminasi loh. [joko.moer/bersambung]
|
| A R S I P |
Komentar :
|
| » |
Memang aneh, betul2 aneh, disaat band2 kacangan melejitkan tembang2 dan lirik2 aneh bin jelek binti garing, Sebuah band sekelas padi meluncurkan sebuah album yang boleh dibilang kualitas bermusik dan penguasaan lagu dan alat telalu jauh hebatnya jika dibandingkan dengan band2 kacangan saat ini sangat kurang responnya, aq betul2 heran, terheran heran oleh para penikamat musik dangkalan yang hanya menikmati musik dari segi prestisenya saja. timbul sebuah pertanyaan yang betul2 mengganjal dalam benakku "apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh para penikmat musik dangkalan itu???" mengapa lirik2 jelek begitu cepat diterima oleh khalayak sdangkan lirik2 dan kualitas bermusik macam padi seakan diacuhkan?? ck..ck..ck.. - emen |
| » |
kayanya pendengar musik indonesia hanya mendengarkan musik karna musiknya enak didengar aja,, tidak dari lirik atau skill musik yg dimainkan,, lihat aja lagu yg menceritakan selingkuh, kekasih gelap, mendua, dan lainnya yg memiliki makna negatif didalam kehidupan banyak digemari, sungguh ironi , lirik itu ibarat doa yg tertuang dari dalam hati,,, hanya padi yang mengerti untuk penulisan lirik yg tidak kearah makna negatif,, untuk masalah keunikan padi ,, kita dapat lihat dan dengar diacara reality show di tv,, masih banyak yg memakai lagu2 padi untuk backsoundnya secara berulang ulang, bahkan dari album yang pertamanya hingga yg terakhir,, itulah kualitas lirik padi yg memiliki makna universal dan tidak usang oleh zaman - wawan |
| » |
emang agak susah mencari format yang disukai ama banyak orang indoesia yang terkenal fleksibel....bu acin bilang orang indonesai mao disodorin musik apa aja...hingga musik2 yang punya kualitas seperti PadI butuh energi kuat buat menerobos image bangsa ini...kuncinya satu...kalo label sonynya mo habis2an terutama dilagu2 yang mudah dikunyak (gue setuju --belum terlambat --termasuk jagonya buat ngerajai chart dan pasar...)gue pastiin bangsa ini akan jatuh hati buat padi...puter aja ditipi...tiap hari...setelah masyarkat filnya dapet..baru kurangi promosinya.....jadi geber abis...terus rangkul wartawan....(kalo dari situsnya padi-online udah diajalanin tuh...tinggal promosinya lewat tv)....jangan kan lagi lagu2 yang maap --gak jelas--yang lagi wira wiri diradio dan tipi....baju bekas, boraks, narkoba, mainan rongsokan china, racun makanan kecil, bus dan kereta bekas, juga laku dinegeri kita...PadI adalah sedikit dari Band Besar Indonesia yang punya skill, orisinalitas dan image tersendiri....jadikarena kualitas udah ada tolong dikemas yang apik aja ama label ....b uat promosi...
tentang mengambil insprasi...gak papa bung dari mana aja,,,,tapi yang orisinil tetap dibuat sendiri....karena musik cuma nyediain do re mi fa sol la si do sampai 4 oktaf....good luck PadI..terima kritik dengan besar hati...teruslah membuat kami terinspirasi dengan lagu2mu...."bunuhlah" mereka yang dengan karya, skill dan eksistensimu...... - zadris |
|
|
|
|
|
|