KALAU Anda termasuk Slankers (fans fanatik grup musik rcok Slank –red), perhatikan, album pertama sampai kelima, ada nada-nada rock ‘n roll yang selalu muncul dari kibor. Dan itu sangat kental. Di balik musik itu, ada satu nama yang sangat identik dengan rock n’ roll itu. Dialah Indra Chandra Setiadi atau Indra Q (adarsih).
Nama cowok bertubuh kurus ini dikenal seiring dengan naiknya grup Slank. Karena ia adalah pemain kibor grup yang bermarkas di Jalan Potlot ini. Ia pula yang membuat Slank bisa rekaman. Tapi sayang di tengah kepopuleran itu Indra keluar dari Slank.
Indra mulai mengenal lingkungan Potlot ketika ia sering latihan di studio sewaan milik Bimbim. Kepiawaian Indra membuat Indra tertarik. Perlahan keduanya mulai mengenalkan musik-musik rock pada Indra. Mulailah ia diajak main bareng Slank. Saat pertama main di Slank honor yang didapatnya sebesar 80 ribu, sebagai musisi tanggung honor itu jelas cukup besar. ''Ya...paling nggak dalam sebulan gue punya penghasilan sebesar itu,'' kata pria kelahiran Jakarta, 1 April 1971 ini. Akhirnya tahun 1989 ia masuk Slank.
Atas bantuan ayahnya yang fotografer cover kaset (di antaranya album Iwan Fals, Jamal Mirdad, Hetty Koes Endang, Nia Zulkarnain, Betharia Sonata, dll), dan kedekatannya dengan Budi Soesatio demo Slank diterima. Tahun 1990 album pertama Slank Suit-suit..Hey-hey (Gadis Sexy) keluar dan meledak.
Kemudian Slank makin berkembang dan jadi band nomor satu di Indonesia. Penggemar-penggemar Slank atau Slankers tersebar di mana-mana dan sangat fanatik. Tapi sayang pada tahun 1996 saat akan menggarap album keenam, Lagi Sedih, Indra tidak lagi terlibat.
Ternyata kepopuleran itu membawa dampak buruk bagi Indra, ia mulai akrab dengan drugs dan akhirnya terpuruk. ''Gue dikucilkan saat pakai,'' katanya yang mengaku bisa berbahasa Latin, Arab dan Yunani ini. Ia pun keluar dari Slank yang saat itu sedang berada di puncak karir.
Lalu ia mencoba meniti karir menjadi sound engineer di Studio Hijau milik Anang. Tapi kesukaannya ngedrug makin menjadi, sehingga membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Akhirnya ia pun tidak lagi bermusik, meskipun saat itu ia tetap tinggal di Hijau.
Bakat musik Indra sudah terlihat sejak kecil, ini tak lain karena pengaruh dari keluarga yang gemar mendengarkan musik. Disamping ibunya, Titi Qadarsih, juga seorang penyanyi. Sejak kecil semua jenis musik didengar oleh Indra, ini disebabkan karena setiap anggota keluarga memiliki kegemaran yang berbeda.
Misalkan saja Judo Salmun, ayahnya, suka akan musik ABBA, kakek dan neneknya lebih akrab dengan musik-musik mainstream, sedangkan Oomnya gemar dengan Rolling Stones dan musik dangdut ia kenal dari pembantu rumahnya. ''Jadi waktu kecil gue sudah tahu lagu-lagu Rhoma Irama,'' kata Indra yang akrab dipanggil Dower ketika kecil. Namun dari begitu banyak influence, ia lebih memilih jazz untuk ditekuni.
Setiap anggota keluarga juga mempunyai cara sendiri untuk menikmati musik, oleh karena itu Indra pun menuntut sesuatu untuk memberi sikap terhadap musik. Lalu ia memilih untuk belajar organ, lalu merengeklah Indra kecil yang ketika itu berumur sembilan tahun agar dibelikan sebuah organ kecil.
''Wah...gue merajuk terus, bisa dibilang saat itu gue kolokannya seratus persen,'' kenang anak pertama dari dua bersaudara ini. Jelas kelakuan Indra yang lain dari biasanya ini membuat bingung keluarga dan akhirnya mau tak mau keinginannya dipenuhi. Lalu untuk memperlancar permainannya ia pun dikursuskan organ di YMI (Yamaha Musik indonesia).
Di sini bakatnya mulai terlihat, jika siswa lain harus melihat partitur kalau sedang main. Indra justru tidak memerlukannya. ''Sekali melihat gue langsung bisa hapal,'' tuturnya yang ketika ujian akhir langsung diluluskan oleh sang guru.
Pelajaran yang ia peroleh selama kursus dikembangkan sendiri dan kelas satu SMP ia kembali kursus di Marcia Course Center (MCC). Kali ini ia memilih piano, ''Gue cuma ingin tahu metode pengajaran piano,'' ujar cowok yang hobi tidur dan makan ini. Tak puas di MCC ia pun mendaftarkan diri di sekolah musik Farabi untuk memperdalam jazz.
Di tempat ini ia langsung dites oleh Indra Lesmana. Menurut Indra Lesmana seharusnya ia bisa masuk advance, tapi karena tidak bisa not balok ia pun harus kembali ke kelas intermediate. Di kelas ini ia dibimbing oleh Riza Arsyad. Tapi hanya sekali saja ia masuk, alasannya keluar karena setelah diterangkan ia sudah cukup mengerti.
''Sebelumnya gue memang sering baca buku-buku jazz, jadi begitu dikasih tahu langsung memahami dan gue bisa tahu langkah selanjutnya,'' ungkap pengagum Chick Corea, Lukather dan Joe Satriani ini. Tiga metode pengajaran di tiga tempat itu baginya sudah cukup untuk bekal bermusik dikemudian hari.
Untuk urusan ngeband Indra sudah memulainya sejak kelas satu SMP, walaupun band ini tidak pernah manggung. Di SMA ia semakin aktif ngeband, bahkan Indra punya beberapa grup band. Saking asyiknya ngeband Indra pun memutuskan untuk keluar sekolah. Padahal ketika itu ia baru duduk di kelas dua. ''Malas gue sekolah abisnya kelamaan sih belajarnya dan gue nggak perlu lulus SMA,'' jelasnya mantap.
Keputusan ini tentu membuat shock dan marah Titi Qadarsih. Si ibu tidak mengerti apa yang diinginkan anaknya ini. ''Mau jadi apa kamu? Mau jadi tukang parkir?'' kata Indra menirukan ucapan sang ibu. Tekad ini ia ambil karena ia yakin bisa hidup dari musik.
Pertengkaran ini membuatnya meninggalkan rumah dan baru kembali setahun kemudian. Tindakan itu dilakukan karena ia hanya ingin menunjukkan pada ibunya bahwa niatnya bermusik sungguh-sungguh. Saat itu bandnya Chivas (dibentuk bareng Pay dan Alm. Andy Liani) berhasil jadi juara pertama pada Festival Djarum Music Contes tingkat DKI. ''Itu hanya sebagai pembuktian pada nyokap,'' ujarnya. Sejak itu lah sikap ibunya mulai berbeda dan balik mendukungnya, dengan syarat tidak membuat malu nama keluarga.
Setelah terpuruk dengan drug sekian lama, sekarang ia menyatakan diri sudah sembuh. Itu pun setelah ia berhasil melalui proses yang panjang dalam penyembuhan dan kini siap untuk kembali bermusik. Musik yang ia tinggali selama bertahun-tahun membuatnya merasa banyak tertinggal jauh. ''Jadinya gue sekarang harus belajar lagi dari awal,'' katanya.
Namun ketinggalan itu berhasil ia kejar. Kini ia pun lebih bersemangat dalam bermusik. Agaknya ia telah mendapat energi baru untuk menghasilkan musik-musik yang bagus. Di tahun 2000, ia bersama mantan personel Slank yang lain (Pay dan Bongky) membuat grup baru BIP. [joko/foto: istimewa]
|